Tuesday, October 8, 2013

DUA PULUH AMALAN YANG DAPAT MENGHAPUSKAN DOSA-DOSA KECIL



Sahabat yang dirahmati Allah, 
Setiap anak Adam selain daripada Nabi dan Rasul akan melakukan kesalahan dan berdosa. Sebaik-baik mereka yang berdosa adalah bertaubat dan beristighfar kepada Allah SWT. Selain daripada istighfar dan taubat yang kita ucapkan untuk memohon ampun kepada Allah SWT , terdapat dua puluh amal soleh dan amal ibadah yang boleh menjadi penebus dosa-dosa kita.

Amalan-amalan tersebut adalah seperti berikut :


Pertama : Menyempurnakan wuduk dan berjalan ke masjid.


Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud : “Mahukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dapat menghapus dosa dan mengangkat derajat. Mereka menjawab: 'Ya, wahai Rasulullah'. Baginda bersabda : 'Sempurnakan wuduk ketika masa sulit dan memperbanyak langkah ke masjid serta menunggu solat satu ke solat yang lain, kerana hal itu adalah ribath.” (Hadis Riwayat Muslim dan Tirmidzi)


Dalam hadis yang lain sabda Nabi SAW yang bermaksud : “Jika seseorang berwuduk lalu menyempurnakan wuduknya kemudian berangkat solat dengan niat hanya untuk solat, maka tidak melangkah satu langkah kecuali Allah angkat satu darjat dan hapus satu dosa.” (Hadis Riwayat Tirmidzi)


Kedua : Puasa hari Arafah dan Asy Syura.


Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud : “Puasa hari Arafah saya berharap dari Allah untuk menghapus (dosa selama) setahun yang sebelumnya dan setahun setelahnya dan Puasa hari Asy Syura saya berharap dari Allah menghapus setahun yang lalu.” (Hadis Riwayat Tirmidzi)


Ketiga : Solat Terawih di bulan Ramadan.


Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud : “Barangsiapa menegakkan Ramadan (solat terawih) dengan iman dan mengharap pahala Allah maka diampunilah dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun ‘Alaihi)


Keempat : Haji yang mabrur.


Nabi SAW bersabda maksudnya : “Barangsiapa yang berhaji lalu tidak berkata keji dan berbuat kefasikan (kejelekan) maka ia kembali seperti hari ibunya melahirkannya.” (Hadis Riwayat Al-Bukhari). 


Kemudian dalam sabda baginda yang lain maksudnya : “Haji mabrur balasannya adalah syurga.” (Hadis Riwayat Ahmad) 


Maksud hadis ini jika dapat masuk syurga bermakna Allah SWT telah menghapuskan dosa-dosa yang telah dilakukannya hingga bersih daripada dosa.


Kelima : Memaafkan hutang orang yang tidak mampu membayarnya.


Melakukan kebaikan setelah berbuat dosa . Nabi SAW bersabda maksudnya : “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada, ikutilah keburukan dengan kebaikan yang menghapusnya dan pergauli manusia dengan cara yang mulia.” (Hadis Riwayat Tirmidzi dan Ahmad)


Sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam yang maksudnya: "Sesiapa yang menghilangkan atau melapangkan suatu kesusahan seorang mukmin di antara kesusahan-kesusahannya di dunia, maka Allah akan menghilangkan atau melapangkan suatu kesusahan di antara kesusahan-kesusahannya pada hari kiamat. Sesiapa yang memberikan kemudahan atas orang yang dalam kesulitan, maka Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat." (Hadis Riwayat Mustaim, Abu Daud dan Tirmidzi).


Rasulullah SAW. bersabda yang maksudnya : "Sesiapa yang menangguhkan hutang orang yang belum dapat membayarnya atau membebaskannya, pada hari kiamat kelak Allah SWT. akan menaunginya di bawah naungan Arasy, di mana pada hari tersebut tidak ada naungan kecuali naungan-Nya." (Hadis Riwayat Tirmizi).


Keenam : Memberi salam dan berkata baik .


Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud : “Sesungguhnya termasuk sebab mendapatkan ampunan adalah memberikan salam dan berkata baik.” (Hadis Riwayat Al-Kharaithi dalam Makarim al Akhlak)


Ketujuh : Sabar atas musibah .


Sabda Rasulullah SAW maksudnya : “Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla berfirman, 'Sesunguhnya apabila Aku menguji seorang hamba-Ku yang mukmin, lalu ia memuji-Ku atas ujian yang Aku timpakan kepada-Nya, maka ia bangkit dari tempat tidurnya (dalam keadaan) bersih dari dosa seperti hari ibunya melahirkannya." (Hadis Riwayat Ahmad)


Kelapan : Menjaga solat lima waktu dan Jumaat serta puasa Ramadan.


Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud : “Solat lima waktu dan Jumaat ke Jumaat dan Ramadan ke Ramadan adalah penghapus dosa diantara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi.” (Hadis Riwayat Muslim)


Kesembilan : Melaungkan Azan untuk solat fardu.


Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud : “Sesungguhnya seorang muazin akan diampuni dosanya sepanjang (gema) suaranya.” (Hadis Riwayat Ahmad)


Kesepuluh : Melakukan solat fardu lima waktu.


Sabda Rasulullah yang bermaksud : "Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sungai di pintu yang digunakan untuk mandi setiap hari lima kali, apa yang kalian katakan apakah tersisa kotorannya? Mereka menjawab, “Tidak ada sisa kotorannya sedikitpun.” Baginda bersabda maksudnya : “Solat lima waktu menjadi sebab Allah menghapus dosa-dosa.” (Hadis Riwayat Bukhari)


Kesebelas : Memperbanyak sujud .


Sabda Rasulullah yang bermaksud : “Hendaklah kamu memperbanyak sujud kepada Allah, kerana tidaklah kamu sekali sujud kepada-Nya melainkan Dia mengangkatmu satu darjat dan menghapus satu kesalahanmu (dosa) darimu.” (Hadis Riwayat Muslim)


Kedua Belas : Mengerjakan solat malam. 


Rasulullah bersabda yang bermaksud : “Hendaklah kalian solat malam, kerana ia adalah amalan orang yang soleh sebelum kalian dan amalan yang mendekatkan diri kepada Rabb kalian serta penghapus kesalahan dan mencegah dosa-dosa.” (Hadis Riwayat Al-Hakim)


Ketiga Belas : Berjihad di jalan Allah. 


Nabi SAW bersabda yang maksudnya : “Akan diampuni tiap dosa orang yang mati syahid kecuali hutang.” (Hadis Riwayat Muslim)


Keempat belas : Mengiringi haji dengan umrah. 


Rasulullah SAW bersabda maksudnya : “Iringi antara haji dengan umrah, kerana pengiringan antara keduanya dapat menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana Al-Kier (alat pembakar besi) menghilangkan karat besi.” (Hadis Riwayat Ibnu Majah)


Kelima belas : Bersedekah.


Nabi SAW bersabda maksudnya : “Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan pada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Surah al-Baqarah ayat 271)


Rasulullah SAW bersabda maksudnya :“Sedekah menghapus dosa seperti air memadamkan api.” (Hadis Riwayat Ahmad, Tirmidzi dan selainnya)


Keenam belas : Menegakkan hukum Allah SWT.


Nabi SAW bersabda maksudnya : “Siapa saja yang melanggar larangan Allah kemudian ditegakkan padanya hukum pidana maka dihapus dosa tersebut.” (Hadis Riwayat Al-Hakim)


Ketujuh belas : Duduk di dalam masjid menunggu solat ke solat.


Nabi SAW bersabda maksudnya : “Mahukah kamu sekalian aku tunjukkan sesuatu yang dapat menghapus dosa dan mengangkat derajat. Mereka menjawab: 'ya wahai Rasulullah'. Baginda bersabda: 'menyempurnakan wuduk ketika masa sulit dan memperbanyak langkah kemasjid serta menunggu solat satu ke solat yang lain, kerana hal itu adalah ribath  (merapatkan hubungan dengan Allah SWT)” (Hadis Riwayat Muslim dan Al Tirmidzi).


Kelapan belas : Berzikir selepas solat.


Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda maksudnya : “Sesiapa yang membaca kalimat berikut di setiap selesai solat,

سُبْحَانَ اللهِ(33 ×) وَالْحَمْدُ لِلَّهِ (33 ×)وَاللهُ أَكْبَرُ (33 ×) لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ

“Maha Suci Allah (33 x), segala puji bagi Allah (33 x) . dan Allah Maha Besar. (33 x) , Tidak ada Tuhan (yang hak disembah) kecuali Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan. Bagi-Nya pujaan. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.” ... maka akan diampuni kesalahannya, sekalipun seperti buih di laut.” (Hadis Riwayat Muslim, 3/262, no. 939.)

Ke sembila belas : Memperbanyakkan tasbih, tahmid, tahlil , takbir dan hauqqalah.


Al-Baqiyatush Shalihat terdiri atas kalimat :


1. Tasbih : Subhanallah 2. Tahmid : Alhamdulillah 3. Tahlil : Laa Ilaaha Illallaah

4. Takbir : Allahu Akbar 5. Hauqqalah : Lahaula Walakuwwata Illaabilla

Dari Ummu Hani ra dia berkata:”Suatu ketika lewatlah Rasulullah SAW dihadapanku. Lalu saya berkata , “Ya Rasulullah SAW saya sudah tua dan lemah. Beritahukanlah padaku suatau amalan agar dapat saya kerjakan sambil duduk” . Baginda bersabda:” Bacalah Subhanallah 100 kali, itu seimbang bagimu dengan memerdekakan 100 orang budak dari keturunan Ismail. Bacalah Alhamdulillah 100 kali, itu seimbang bagimu dengan mensedekahkan 100 ekor kuda yang bercahaya dan terkendali yang disedekahkan dijalan Allah. Bacalah Allahu Akbar 100 kali , itu seimbang bangimu dengan menyembelih 100 ekor unta yang terkorban dan diterima disisi Allah SWT. Dan bacalah Laa ilaaha illallah 100 kali” Abu Khalfin berkata aku kira pahalanya akan memenuhi antara langit dan bumi, dan tidak ada yang melebihinya darimu kecuali orang yang mengamalkannya melebihimu." (Hadis Riwayat Ahmad)


Dalam sebuah hadis menyebut daripada Abu Zar, beliau berkata: “Aku berjalan di belakang Rasulullah SAW, lalu baginda berkata kepadaku: “Wahai Abu Zar, mahukah aku tunjukkan kepada kamu satu perbendaharaan daripada beberapa perbendaharaan syurga? Aku berkata: "Mahu ya Rasulullah". Baginda bersabda: “La Haula wala Quwwata illa billah.”


Kedua puluh : Mengerjakan solat tasbih.


Ikrimah daripada Ibnu Abbas r.a., beliau berkata : Rasulullah SAW. bersabda kepada Abbas bin Abdul Mutalib yang bermaksud :


"Wahai Abbas pamanku. Apakah engkau suka aku memberi hadiah istimewa yakni kuajarkan sepuluh macam perbuatan yang dapat menghapus dosa? Apabila paman mengerjakannya Allah akan mengampuni dosa-dosamu, yang awal atau yang akhir, yang lama atau yang baru, yang disengaja maupun tidak sengaja, yang kecil atau yang besar, yang tersembunyi atau pun yang nampak.


Sepuluh perkara tersebut iaitu bahawa engkau solat empat rekaat, setiap rekaat engkau baca al-Fatihah dan sebuah surah. Apabila engkau telah membaca dalam rekaat pertama,tetaplah engkau dalam keadaan berdiri dan bacalah subhanallah wal hamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar (Maha Suci Allah dan segala puji bagi Allah dan tidak ada tuhan melainkan Allah dan Allah Maha Agung) sebanyak lima belas kali, kemudian rukuk dan bacalah kalimah tersebut sepuluh kali semasa dalam keadaan rukuk, kemudian engkau bangun dari rukuk dan bacalah kalimat itu sepuluh kali kemudian turun untuk sujud dan bacalah sepuluh kali semasa engkau dalam keadaan sujud. Apabila bangun dari sujud bacalah sepuluh kali kemudian engkau sujud dan bacalah sepuluh kali selepas itu engkau bangun dan bacalah sepuluh kali. Maka kesemuanya berjumlah tujuh puluh lima dalam setiap rakaat. Kerjakanlah kesemuanya dalam keempat rakaat.


Apabila engkau mampu mengerjakan solat tasbih setiap hari satu kali maka kerjakanlah. Apabila tidak mampu kerjakanlah seminggu sekali. Apabila tidak mampu, lakukanlah sebulan sekali. Apabila engkau tidak mampu juga, kerjakanlah setahun sekali. Jika engkau tidak mengerjakannya, lakukanlah sekali sahaja semasa hidupmu."

(Hadis Riwayat Abu Daud, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah)

Sahabat yang dikasihi,

Marilah sama-sama kita beramal dengan amal-amal soleh dan amal ibadah yang akan dapat menghapuskan dosa-dosa kecil yang kita lakukan. Terlalu banyak dosa-dosa kecil yang kita lakukan tanpa kita sedari, maka dengan kita melakukan dua puluh amalan di atas diharapkan akan terhapuslah dosa-dosa kecil kita. Walaubagaimana pun dosa-dosa besar hanya terhapus dengan bertaubat kepada Allah SWT. Oleh itu banyakkan bertaubat dan beramal soleh semoga semua dosa-dosa kita di ampunkan oleh Allah SWT.
Sila rujuk abubasyer.blogspot.com




Monday, October 7, 2013

MENINGGAL SEMBAHYANG FARDHU JUMAAT


Apa hukumnya meninggalkan sembahyang fardhu Jumaat kerana tidak dibenarkan ketua dengan alasan tidak boleh meninggalkan kerja?

Apakah senarai uzur atau halangan yang membolehkan seseorang meninggalkan sembahyang fardhu Jumaat?

Apa tindakan yang patut dilakukan oleh seseorang yang dilarang meninggalkan kerja bersyif pada saat tibanya waktu menunaikan sembahyang fardhu Jumaat, dengan catatan bahawa kerja bersyif itu boleh diambil alih oleh orang yang tidak wajib bersembahyang Jumaat, seperti perempuan dan orang yang bukan Islam?

Bagaimana pula tindakannya jika tidak ada orang yang mahu mengambil alih kerja itu?

Apa hukumnya seseorang ketua tidak membenarkan pegawainya yang sedang bekerja untuk pergi menunaikan sembahyang fardhu Jumaat, sedangkan ketua itu boleh mengambil kebijaksanaan dengan menugaskan atau mencari (mengambil pekerja baru) orang yang tidak wajib bersembahyang Jumaat untuk melakukan kerja berkenaan?

Jawapan:

Hukum sembahyang fardhu Jumaat ialah fardhu ‘ain apabila berhimpun syarat-syarat wajib dan syarat-syarat sah sembahyang Jumaat itu.

Dalil yang menjelaskan kefardhuan sembahyang Jumaat itu sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

Tafsirnya: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila diserukan azan (bang) untuk mengerjakan sembahyang pada hari Jumaat, maka segeralah kamu pergi (ke masjid) untuk mengingati Allah (dengan mengerjakan sembahyang Jumaat) dan tinggalkanlah berjual beli (pada saat itu); yang demikian adalah baik bagi kamu, jika kamu mengetahui (hakikat yang sebenarnya).” (Surah al-Jumu‘ah: 9)


Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam juga menjelaskan akan kewajipan sembahyang Jumaat itu sebagaimana sabdanya:

Maksudnya: “Menyegerakan Jumaat itu wajib ke atas setiap orang yang bermimpi (bâligh).” (Hadis riwayat an-Nasa’i)

Tersebut di dalam kitab Mughni al-Muhtâj: “Bahawa syara‘ telah menentukan syarat-syarat wajib sembahyang Jumaat itu ke atas setiap orang Islam yang mukallaf iaitu bâligh, berakal, merdeka, lelaki, orang yang muqîm, yang tidak sakit dan lain-lain lagi seperti takut, tidak mempunyai pakaian, lapar dan dahaga. Dan tidak wajib Jumaat itu bagi kanak-kanak dan orang gila sebagaimana pada sembahyang yang lain. Berkata Imam an-Nawawi di dalam kitab ar-Raudhah: “Tidak wajib Jumaat bagi orang yang pitam kerana pitam itu seperti orang gila, dan tidak wajib bagi hamba, perempuan dan orang musafir yang diharuskan, sebagaimana sabda Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam:

Maksudnya: “Sembahyang Jumaat itu hak yang wajib ke atas setiap orang Islam kecuali empat: Hamba yang dimiliki atau perempuan atau kanak-kanak atau orang sakit.”
(Hadis riwayat Abu Daud dan lain-lain)
Sabda Baginda lagi:

Maksudnya: “Tidaklah (wajib) sembahyang Jumaat itu bagi orang yang musafir dan orang yang sakit.”
(Hadis riwayat al-Baihaqi)
Berkata Imam an-Nawawi di dalam kitab yang sama: “Dan tidak wajib sembahyang Jumaat itu ke atas mereka yang berkeuzuran yang diberikan kelonggaran (rukhshah) pada meninggalkan sembahyang berjemaah.” (Kitab Mughni al-Muhtâj: 1/376)
Dan berkata Ibnu ‘Abbas bahawa: “Sembahyang Jumaat itu adalah seperti sembahyang berjemaah.”
Di antara keuzuran-keuzuran yang boleh seseorang itu meninggalkan sembahyang Jumaat ialah sibuk kerana menguruskan mayat yang ditakuti jika dilambatkan akan menyebabkan mayat menjadi busuk, dan orang yang menghidap penyakit cirit-birit dan takut akan mencemarkan kebersihan masjid. Imam ar-Rafi‘e juga menyebut di dalam kitab at-Tatimmah mengenai sembahyang berjemaah bahawa orang yang dipenjara (dikurung) itu juga adalah dianggap sebagai keuzuran. (Kitab Mughni al-Muhtâj: 1/376)
Berkata asy-Syirazi di dalam kitab al-Muhadzdzab: “Bahawa tidak wajib sembahyang Jumaat itu bagi orang yang takut akan berlaku suatu yang tidak baik pada dirinya atau hartanya sebagaimana hadis yang diriwayatkan daripada Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhuma bahawa Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Maksudnya: “Barang siapa yang mendengar seruan azan dan dia tidak pergi kepadanya untuk bersembahyang, maka tiada sembahyang baginya kecuali orang-orang yang mempunyai keuzuran”. Mereka bertanya: “Ya Rasulullah, apakah keuzuran itu?” Baginda menjawab (bersabda): “Takut dan sakit.”
(Hadis riwayat Abu Daud)
Tidak wajib sembahyang Jumaat itu bagi orang yang terkena hujan di dalam perjalanan menuju ke masjid menyebabkan pakaiannya basah dan terhalang tujuannya untuk bersembahyang, dan tidak wajib ke atas orang yang menunggu orang sakit yang tidak boleh ditinggalkan dan tidak wajib pula ke atas orang yang mempunyai keluarga (kerabat) atau menantu/ipar lelaki atau orang yang dikasihi yang hampir mati (nazak). (Al-Muhadzdzab: 1/152).
Beliau (asy-Syirazi) juga menyebutkan, di antara keuzuran-keuzuran yang boleh seseorang itu meninggalkan sembahyang berjemaah ialah kerana hujan lebat, berlumpur dan angin yang kuat di waktu malam yang sangat gelap, makanan yang terhidang sedang dia merasa lapar atau menahan daripada kentut, berak dan kencing.
Daripada keuzuran berjemaah yang lain ialah orang yang takut akan berlaku sesuatu yang tidak baik (mudharat) pada dirinya atau hartanya atau dia sakit. (Al-Muhadzdzab: 1/131)
Imam an-Nawawi menyebutkan, di antara yang dikatakan keuzuran itu ialah apabila dia takut daripada orang yang akan membuat zalim ke atas dirinya atau terhadap hartanya atau dia mempertahankan dirinya daripada sultan atau orang lain yang akan menzaliminya atau dia takut daripada pemiutang yang akan memenjarakannya atau dia mesti membayarnya sedangkan dia tidak berdaya. Dan termasuk takut tentang sesuatu yang mengenai harta itu ialah jika sekiranya roti sudah dibakar di dapur dan periuknya sudah di atas api sedang tidak ada orang yang menjaga di tempat itu. (Kitab al-Majmû‘: 4/100)
Maka daripada penjelasan terhadap kelonggaran (rukhshah) yang diharuskan bagi meninggalkan sembahyang Jumaat itu, pegawai-pegawai yang ditugaskan bekerja pada waktu sembahyang Jumaat dan kerja tersebut tidak boleh ditinggalkan, kerana tidak ada orang lain yang akan mengendalikannya, adalah keadaan tersebut termasuk dalam keuzuran yang diharuskan oleh syara‘, sebagaimana juga orang yang menunggu orang sakit yang tidak boleh ditinggalkan, atau kerja tersebut tidak boleh ditinggalkan kerana mentaati ketua. Di dalam Islam mentaati ketua itu adalah wajib pada perkara yang bukan maksiat dan bukan menderhaka kepada Allah dan RasulNya. Hal ini telah dijelaskan dalam firman Allah Ta‘ala:

Tafsirnya: “Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasulullah dan kepada uli al-amri (orang-orang yang berkuasa) daripada kalangan kamu.”
(Surah an-Nisâ’: 59)
Baginda Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam juga menjelaskan di dalam hadis daripada Ibnu ‘Umar, Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Maksudnya: “Bagi seorang Muslim itu adalah wajib mendengar dan taat kepada orang yang berkuasa, sama ada dia menyukai atau sebaliknya, kecuali dia diperintahkan melakukan perkara maksiat. Jika dia disuruh melakukan perkara maksiat, maka tidak wajib mendengar dan mentaati (perintah itu).”
(Hadis riwayat Muslim)
Hendaklah diingat, bahawa pegawai yang ditugaskan itu janganlah dia bercita-cita atau mengharapkan supaya bertugas pada waktu sembahyang Jumaat agar dia terlepas daripada pergi menunaikan sembahyang Jumaat. Demikian juga menjadi kewajipan ketua untuk memerhatikan dan mencari jalan dengan bijaksana bagi mengaturkan jadual pekerjaan untuk pegawai-pegawai dan kakitangannya yang bertugas pada hari Jumaat, sehingga tidaklah terhalang orang-orang yang wajib Jumaat untuk menunaikannya. Umpamanya dengan cara yang bijaksana, jika mungkin, kita mengaturkan orang-orang yang tidak wajib Jumaat seperti pegawai-pegawai dan kakitangan perempuan ataupun mereka yang bukan beragama Islam untuk menjalankan tugas-tugas itu pada hari Jumaat, ataupun memadai pegawai-pegawai dan kakitangan yang beragama Islam itu hadir ke masjid dan selepas itu mereka akan mengambil alih semula tugas-tugas daripada pegawai-pegawai perempuan atau mereka yang bukan beragama Islam tadi.
Sekiranya tidak terdapat orang-orang yang bertugas itu mereka yang tidak wajib Jumaat, yakni semuanya wajib Jumaat belaka, maka hendaklah dipastikan serta dielakkan supaya pegawai-pegawai yang berkenaan itu, jangan sampai ada yang tidak menunaikan sembahyang Jumaat secara berterusan atau berturut-turut, dalam makna, mereka hendaklah digilir-gilir, umpamanya: Jumaat ini si A yang bertugas sementara si B menunaikan Jumaat. Untuk Jumaat yang lain, si A pula menunaikan sembahyang Jumaat sementara si B bertugas. Begitulah seterusnya.
Perlu diingat, bahawa amaran kerana meninggalkan fardhu Jumaat secara berturut-turut tanpa uzur itu adalah sangat keras dan berat.
Banyak hadis Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam yang memberi amaran sekeras-kerasnya kepada orang yang meninggalkan sembahyang Jumaat tanpa keuzuran kerana perbuatan tersebut adalah tanda bagi orang-orang munâfiq dan menjadi sebab turunnya kebinasaan di dunia dan di akhirat.
Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Maksudnya: “Barang siapa yang meninggalkan sembahyang Jumaat tiga kali dengan tiada keuzuran maka dia telah meletakkan Islam itu di belakangnya (meninggalkannya).”
(Hadis riwayat al-Baihaqi)
Di dalam hadis yang lain pula Baginda bersabda:

Maksudnya: “Barang siapa yang meninggalkan sembahyang Jumaat tiga kali dengan tiada keuzuran maka dia adalah seorang munâfiq.”
(Hadis riwayat Ibnu Hibban)
Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada satu kaum yang tidak bersembahyang Jumaat:

Maksudnya: “Aku menitikberatkan (memerintahkan) supaya seorang lelaki itu bersembahyang dengan beramai-ramai (berjemaah), kemudian aku berazam membakar rumah-rumah mereka (lelaki) yang meninggalkan sembahyang Jumaat.”
(Hadis riwayat Muslim)


Wednesday, July 31, 2013

Monday, February 7, 2011

BERUBAT DENGAN BENDA YANG NAJIS

BERUBAT DENGAN BENDA YANG NAJIS

Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu`Ala Rasulillah, Wa'ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

Sakit adalah suatu perkara yang biasa menimpa manusia. Adakalanya sakit itu menimpa manusia dalam bentuk fizikal dan ada juga kalanya dalam bentuk spiritual. Dalam semua keadaan tersebut, orang sakit biasanya akan berusaha mencari ubat untuk menghilangkan sakit itu.

HUKUM BERUBAT

Berubat untuk menghilangkan penyakit itu adalah perkara yang digalakkan pada hukum syara‘. Bahkan ia boleh menjadi ibadah jika dilakukan dengan niat yang baik, seperti bertujuan untuk melaksanakan tuntutan syara’ dan bagi memulihkan kesihatan tubuh badan agar dapat beribadat dan meningkatkan ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala dengan lebih sempurna.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri pernah berubat dan menyuruh umatnya berubat. Sebagaimana dalam sebuah hadis, daripada Usamah bin Syuraik menjelaskan bahawa segolongan orang Arab pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, kata mereka:
"Wahai Rasulullah adakah kami boleh berubat? Baginda menjawab: "Berubatlah kamu, kerana Allah ‘azza wajalla tidak menjadikan penyakit melainkan Dia menjadikan ubatnya, melainkan satu jenis penyakit, iaitu sakit tua." (Hadis riwayat Abu Daud)

Dalam hadis yang lain pula, daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: "Allah tidak menurunkan sesuatu penyakit melainkan diturunkan bersamanya penyembuh." (Hadis riwayat Bukhari)

Sabda Baginda lagi Maksudnya: "Bagi setiap penyakit itu ada ubatnya, maka apabila ubat serasi dengan penyakit, ia akan sembuh dengan izin Allah ‘azza wajalla." (Hadis riwayat Muslim)

Sebagaimana yang dijelaskan di atas, bahawa perbuatan berubat itu ternyata digalakkan dalam Islam. Namun begitu, persoalan yang timbul bagaimanakah cara berubat yang dibenarkan oleh hukum syara‘?

CARA BERUBAT

Pada dasarnya ubat atau penawar yang dianjurkan untuk dipakai mestilah ubat-ubatan yang halal, suci, bukan yang diharamkan dan dapat diterima oleh naluri pesakit.

Berubat dengan benda yang haram itu tidak dibenarkan, bahkan ia diharamkan kecuali dalam keadaan darurat. Ini jelas bersandarkan daripada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Ad-Darda’ bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Maksudnya: "Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan ubat, dan dijadikan bagi setiap penyakit itu ubatnya, maka berubatlah kamu, dan jangan kamu berubat dengan yang diharamkan." (Hadis riwayat Abu Daud)

Imam Bukhari pula ada menyebutkan dalam shahihnya daripada Ibnu Mas‘ud katanya:
Maksudnya: "Sesungguhnya Allah tidak menjadikan penawar (kesembuhan) kamu pada benda-benda yang diharamkan ke atas kamu." (Dikeluarkan oleh Bukhari)

Manakala dalam hadis yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah, beliau berkata: Maksudnya: "Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang daripada ubat yang kotor." (Hadis riwayat Abu Daud dan Imam Ahmad)

Berdasarkan hadis-hadis ini, jika penyakit seseorang itu masih dalam peringkat biasa yang tidak membahayakan, maka sesetengah ulama berkata bahawa adalah tidak harus yakni haram berubat dengan benda-benda najis itu.

HIKMAT PENGHARAMANNYA

Ibnu al-Qayyim Rahimahullah ada menerangkan lebih jelas lagi rahsia ini, bahawa larangan tidak dibenarkan benda-benda yang diharamkan sebagai ubat penawar penyakit itu ialah, kerana antara syarat boleh mendapat kesembuhan menerusi sesuatu ubat itu ialah jika terdapat sikap meneri Adapun sudut rahsia atau hikmat ia diharamkan, mengikut para ulama Islam; najis itu menjijikkan dan tidak disukai oleh akal dan naluri. Jadi ia tidak layak dipakai atau dijadikan untuk penawar penyakit.

ma (suka) kepada ubat berkenaan, dan ada keyakinan terhadap khasiat (manfaatnya), di samping percaya, padanya ada keberkatan yang dijadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kemudian bagi seorang Islam pula, yang haram itu memanglah kotor, najis dan menjijikkan. Setiap yang kotor dan menjijikkan, ia tidak diterima bahkan ditolak oleh naluri yang sihat.
Demikian itulah kedudukan najis yang diharamkan, mengapa ia tidak sesuai untuk dijadikan ubat, kerana syarat untuk ianya dapat diterima oleh naluri yang sihat tidak ada lagi. Inilah antara rahsia atau sebab mengapa berubat dengan yang haram itu dilarang. (At-Tibb an-Nabawi: 126)

Demikian antara pendapat ulama mazhab lain di luar mazhab Syafi’e.

BERUBAT DENGAN BENDA-BENDA NAJIS

Tidak dinafikan, ada juga antara penyakit itu yang sukar ditemui ubatnya. Sebahagiannya pula boleh disembuhkan dengan menggunakan ubat-ubatan daripada benda-benda najis iaitu berdasarkan pengalaman orang-orang terdahulu.

Oleh kerana itu, menurut pendapat yang ashah dalam mazhab Syafi‘e, adalah harus berubat dengan segala benda najis, kecuali yang memabukkan, dengan alasan bahawa berubat itu adalah merupakan perkara darurat. Sedangkan darurat itu mengharuskan kita mengambil apa yang ditegah, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:Tafsirnya: "Dan sesungguhnya Allah telah menerangkan kepada kamu satu persatu apa yang diharamkanNya atas kamu, kecuali yang terpaksa kamu memakannya." (Surah Al-An‘am: 119)

Berdasarkan ayat tersebut dan ayat-ayat seumpamanya, maka para ulama telah menggariskan kaedah: Ertinya: "Keadaan-keadaan darurat itu mengharuskan perkara-perkara yang dilarang."

Walau bagaimanapun, penggunaan najis sebagai ubat itu masih juga terikat dengan tidak melampaui batas, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:
Tafsirnya: "Maka sesiapa yang terpaksa kerana kelaparan (memakan benda-benda yang diharamkan) sedang dia tidak cenderung hendak melakukan dosa (maka bolehlah dia memakannya), kerana sesungguhnya Allah Maha Pengampun Lagi Maha Mengasihani." (Surah Al-Ma’idah: 3)

FirmanNya lagi:
Tafsirnya: "Maka sesiapa terpaksa (memakannya kerana darurat) sedang dia tidak mengingininya dan tidak pula melampaui batas (pada kadar benda yang dimakan itu), maka tidaklah dia berdosa. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun Lagi Maha Mengasihani." (Surah Al-Baqarah: 173)

Imam an-Nawawi Rahimahullah juga berpendapat bahawa harus berubat dengan najis selain arak. Hukum keharusan berubat itu sama sahaja bagi semua najis melainkan yang memabukkan. Ini berdasarkan daripada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas Radhiallahu ‘anhu:
Maksudnya: "Bahawa serombongan suku ‘Ukal seramai lapan orang datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu mereka berikrar kepada Nabi untuk masuk Islam. Kemudian cuaca kota Madinah merimaskan mereka dan mengakibatkan tubuh badan mereka sakit-sakit, lalu mereka mengadukan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Baginda bersabda kepada mereka: "Barangkali elok kamu pergi bersama tukang gembala kami kepada untanya, kemudian kamu dapatkan air kencing dan susunya." Mereka menjawab: "Baiklah." Mereka pun pergi dan meminum susu dan kencing unta itu, setelah itu mereka pun sihat. Tetapi kemudian mereka membunuh tukang gembala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu dan merampas unta-untanya." (Hadis riwayat Bukhari)

Walau bagaimanapun, Imam an-Nawawi ada menyebutkan lagi daripada pendapat lain. Bahawa keharusan berubat dengan najis itu hanyalah dibolehkan apabila tidak ditemui ubat yang suci yang boleh menggantikannya. Jika ada ubat yang suci, maka haramlah berubat dengan najis tersebut.

Sebagaimana Al-‘Izz bin Abdussalam Rahimahullah berkata:
Ertinya: "Harus berubat dengan najis apabila tidak ada ubat yang suci yang boleh menggantikannya, kerana maslahat kesihatan dan kesejahteraan itu lebih sempurna berbanding dengan maslahat menjauhi najis. Dan tidak harus berubat dengan arak mengikut pendapat yang ashah."

Oleh yang demikian, berdasarkan daripada penjelasan di atas dapatlah disimpulkan bahawa berubat untuk menyembuhkan penyakit itu adalah perkara yang digalakkan dalam Islam. Ubat-ubatan yang digunakan hendaklah daripada benda-benda yang halal dan suci. Di samping itu, harus berubat dengan benda-benda yang najis selain sesuatu yang memabukkan jika tidak ada ubat lain yang suci sebagai penggantinya.
keluaran Mufti kerajaan Brunei Darussalam

Saturday, December 4, 2010

MUHARRAM

HARI ‘ASYURA’:
BERPUASALAH SEHARI SEBELUM DAN SELEPASNYA

(Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

Bulan Muharram merupakan bulan yang pertama dalam kalendar tahun Hijrah. Maka satu (1) Muharram atau awal Muharram adalah lebih dikenali juga dengan sebutan awal tahun baru Hijrah.

Keutamaan bulan Muharram ialah kerana ia termasuk antara bulanbulan haram yang mempunyai banyak kelebihan. Bulan-bulan haram itu terdiri daripada bulan Zulkaedah, Zulhijjah, Muharram dan Rejab. Bulan-bulan haram merupakan waktu yang sangat afdhal untuk mengerjakan dan memperbanyakkan ibadah puasa selain bulan Ramadhan.

Di antara empat bulan haram tersebut, yang lebih afdhal untuk melakukan puasa ialah pada bulan Muharram. Ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Maksudnya: “Puasa yang afdhal sekali selepas puasa di bulan Ramadhan ialah (puasa) di bulan Allah iaitu bulan Muharram.” (Hadis riwayat Muslim)

Amalan Berpuasa Di Bulan Muharram

Dalam bulan Muharram, selain daripada hari yang kesepuluh yang sudah dikenali dan diketahui ramai dengan panggilan hari ‘Asyura’, terdapat juga beberapa hari lain yang disunatkan untuk berpuasa. Hari-hari yang dimaksudkan ialah hari kesembilan
(Tasu‘a’) dan hari kesebelas.

Bahkan Imam asy-Syafi‘e Rahimahullah dalam Kitab al-Umm dan al-Imla’ menyatakan bahawa digalakkan untuk berpuasa pada ketiga-tiga hari tersebut.

Selain daripada tiga hari yang telah disebutkan di atas, adalah sangat digalakkan juga untuk berpuasa pada sepuluh hari terawal di bulan Muharram. Bahkan sepanjang bulan Muharram, berdasarkan hadis di atas.

Tuntutan Berpuasa Hari ‘Asyura’, Sebelum Dan Selepasnya

Tuntutan untuk berpuasa pada sembilan, sepuluh dan sebelas Muharram itu adalah berdasarkan hadis-hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam antaranya:

Puasa Hari Tasu‘a’

Berpuasa pada hari kesembilan bulan Muharram adalah berdasarkan hadis daripada ‘Abdullah bin ‘Abbas Radhiallahu ‘anhuma dia berkata:

Maksudnya: “Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura’ dan Baginda memerintahkan (para sahabat Baginda) untuk melakukan puasa pada hari itu, mereka berkata: “Wahai Rasulullah! (Bukankah) sesungguhnya hari
‘Asyura‘ itu hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani?”

Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila pada tahun yang akan datang, insya Allah kita akan berpuasa pada hari yang kesembilan”.

Berkata (‘Abdullah bin ‘Abbas): “Belum sempat menjelang tahun hadapan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah pun wafat.” (Hadis riwayat Muslim)

Adapun antara hikmat berpuasa pada hari ‘Asyura’ itu bersamasama dengan hari Tasu‘a’ (hari kesembilan daripada bulan Muharram) itu agar tidak menyerupai dengan amalan orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari ‘Asyura’ sahaja. Ini jelas sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhuma:

Maksudnya: “Berpuasalah kamu pada hari kesembilan dan kesepuluh Muharram dan jangan meniru (menyerupai) cara orang-orang Yahudi.” (Hadis riwayat al-Baihaqi)

Puasa Hari ‘Asyura’

Manakala puasa hari ‘Asyura’, iaitu pada hari kesepuluh Muharram, merupakan sunat yang sangat dituntut (mu’akkadah) untuk dikerjakan.

Puasa hari ‘Asyura’ lebih dikenali oleh masyarakat umum berbanding puasa hari ke sembilan dan kesebelas Muharram. Adapun tuntutan untuk berpuasa pada hari ‘Asyura’ telah disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Mu‘awiyah bin Abi Sufyan Radhiallahu ‘anhuma bahawa dia mendengar Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


Maksudnya: “Ini adalah hari ‘Asyura’ dan Allah tidak mewajibkan kepada kamu mengerjakan puasa padanya. Namun demikian aku berpuasa pada hari ini. Maka barangsiapa yang menghendaki (untuk berpuasa), bolehlah dia berpuasa dan
barangsiapa yang menghendaki untuk berbuka yakni tidak berpuasa, maka boleh sajalah dia berbuka.” (Hadis riwayat al-Bukhari)

Sungguhpun berpuasa pada hari ‘Asyura’ itu hanya merupakan puasa sunat, akan tetapi terdapat banyak hadis-hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyebutkan keutamaan dan fadhilat berpuasa pada hari ‘Asyura’. Oleh itu jangan dipandang
ringan atau disia-siakan. Antara hadis-hadis itu:

1. Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhuma menceritakan dalam sebuah hadis, katanya:

Maksudnya: “Aku (Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhuma) tidak pernah melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bermaksud untuk mengerjakan puasa pada suatu hari yang Baginda lebih mengutamakannya daripada hari-hari yang lain, kecuali hari ini, iaitu hari ‘Asyura’ dan berpuasa dalam bulan ini, yakni bulan Ramadhan”. (Hadis riwayat al-Bukhari)


2. Manakala dalam hadis yang lain pula daripada Abu Qatadah Radhiallahu ‘anhu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Maksudnya: “Puasa hari ‘Asyura’ bahawasanya aku mengharapkan daripada Allah moga mengampunkan dosadosaku pada tahun yang sebelumnya.” (Hadis riwayat Muslim)

Puasa Hari Kesebelas Muharram.

Terdapat satu riwayat yang menganjurkan supaya kita berpuasa sehari sebelum dan sehari selepas hari ‘Asyura’. Daripada Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhuma Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Maksudnya: “Berpuasalah kamu pada hari ‘Asyura’ dan janganlah menyerupai orang Yahudi dalam perkara ‘Asyura’. (Oleh itu) berpuasalah kamu sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.” (Hadis riwayat al-Baihaqi)

Walau bagaimanapun menurut pendapat ulama, disunatkan berpuasa pada hari ke sebelas Muharram; samada dia telah berpuasa ataupun tidak pada hari kesembilan Muharram.

Bagaimana Jika ‘Asyura’ Itu Jatuh Pada Hari-Hari Yang Makruh Berpuasa?

Adapun hari-hari yang dimaksudkan makruh berpuasa itu ialah hari Jumaat atau Sabtu atau Ahad semata-mata. Pada dasarnya hukum berpuasa pada hari Jumaat sahaja tanpa digandingkan dengan berpuasa sehari sebelumnya (hari Khamis) atau sehari selepasnya (hari Sabtu) adalah makruh. Perkara ini adalah berdasarkan tegahan atau larangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melalui hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu katanya: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Maksudnya: “Jangan (sekali-kali) salah seorang daripada kamu berpuasa pada hari Jumaat melainkan (dia berpuasa) sehari sebelumnya atau (sehari) selepasnya.” (Hadis riwayat al-Bukhari)

Begitu juga makruh hukumnya berpuasa pada hari Sabtu sahaja atau pada hari Ahad sahaja tanpa ada sebab lain yang dianjurkan untuk berpuasa. Ini kerana hari Sabtu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi, sementara hari Ahad pula adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Nasrani.

Walau bagaimanapun jika digandingkan atau digabungkan hari yang dimakruhkan berpuasa tadi dengan hari yang lain; umpamanya Jumaat dengan Sabtu atau Sabtu dengan Ahad, maka tidak dihukumkan makruh. Begitu juga halnya gabungan atau gandingan Jumaat dengan Khamis atau Ahad dengan Isnin.

Namun tidak makruh hukumnya berpuasa pada hari Jumaat atau Sabtu atau Ahad semata-mata jika puasa tersebut ada sebab lain yang dianjurkan. Misalnya pada hari-hari tersebut (Jumaat, Sabtu atau Ahad) bertepatan dengan puasa hari ‘Arafah dan puasa hari ‘Asyura’ atau hari tersebut bertepatan dengan kebiasaan seseorang itu melakukan puasa yang diamalkan oleh Nabi Daud ‘Alaihissalam, iaitu berpuasa sehari dan berbuka sehari ataupun dia melakukan puasa pada hari tersebut kerana puasa qadha atau nazar.

Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

Maksudnya: “Jangan kamu mengkhususkan malam Jumaat untuk mendirikan sembahyang (malam) daripada malam-malam yang lain, dan jangan kamu mengkhususkan hari Jumaat untuk berpuasa daripada hari-hari yang lain kecuali puasa yang (kebetulan bertepatan) seorang di antara kamu berpuasa (pada hari itu).” (Hadis riwayat Muslim)

Maka jika kita lihat kembali antara tujuan mengapa digandingkan atau digabungkan hari ‘Asyura’ dengan Tasu‘a’ itu antaranya ialah untuk membezakan amalan orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari ‘Asyura’. Juga sebagai langkah berhati-hati; umpamanya jika ‘Asyura’ itu jatuh pada hari Jumaat. Oleh itu untuk menghindarkan seseorang itu daripada berpuasa hanya pada 10 Muharram itu (hari Jumaat) semata-mata, maka digandingkan atau digabungkan puasa ‘Asyura’ itu dengan hari lain, iaitu hari ke sembilan (Tasu‘a’) atau sehari selepas ‘Asyura’ .

Walau bagaimanapun ini bukan bermakna jika hari ‘Asyura’ itu jatuh pada hari Jumaat, maka barulah disunatkan untuk berpuasa pada hari sebelumnya (hari kesembilan) atau hari selepasnya (hari kesebelas). Bahkan jika ‘Asyura’ itu jatuh pada hari selain hari Jumaat, maka tetap juga disunatkan untuk berpuasa pada hari kesembilan dan kesebelas Muharram.

Sebagai kesimpulan, selain bulan Ramadhan, bulan Muharram merupakan antara bulan yang paling afdhal untuk melakukan dan memperbanyakkan puasa. Di samping hari ‘Asyura’ (10 Muharram) yang sudah diketahui dan dimaklumi sebagai hari yang disunatkan berpuasa padanya, terdapat juga dalil-dalil yang menggalakkan untuk berpuasa pada hari Tasu‘a’ (9 Muharram) dan hari ke sebelas Muharram. Bahkan digalakkan juga untuk berpuasa pada sepuluh hari awal bulan Muharram dan di sepanjang bulanMuharram. sumber rujukan mufti Brunei

Tuesday, January 26, 2010

SAFAR BUKAN BULAN BALA DAN KHURAFAT

Kini kita berada dalam bulan Safar. Bulan kedua dalam taqwim Islam yang diperkenalkan oleh Saidina Umar RA. Dinamakan Safar kerana orang-orang lelaki Arab keluar rumah untuk berdagang, menggembara dan menjalankan kegiatan ekonomi di luat tempat tinggal. Rumah-rumah menjadi kosong dan dipenuhi kaum perempuan dan kanak-kanak.
Sejarah juga mencatatkan bahawa beberapa peperangan berlaku dalam bulan ini iaitu peperangan Al Abwa dalam tahun dua hijrah, perang Bani Qainuqak dan Zi Amin pada tahun ketiga hijrah dan Peperangan Khaibar pada tahun keempat hijrah.

Demikian fakta sejarah, namun hakikatnya dalam masyarakat kita hari ini, bulan Safar dikaitkan dengan bala bencana dan musibah hingga menerbitkan beberapa amalan khurafaat dan tahyul dengan harapan dapat menangkis dan menolak musibah tersebut.

Amalan-amalan khurafat bulan safar seperti mandi safar, membuat ancak, melarang mengadakan kenduri kahwin dan percaya adanya burung hantu sebagai tanda kematian masih berurat nadi dalam kehidupan masakini. Amalan, fahaman dan kepercayaan seperti ini bukan sahaja bercanggah dengan syariat Islam tetapi juga boleh menyebabkan rosaknya akidah.

Nahas dan bala bencana bukan hanya berlaku dalam bulan Safar. Kepercayaan seperti ini perlu ditolak kerana Allah Taala telah memberi amaran kesan dalam surah At Taubah ayat 51 yang bermaksud:
”Katakanlah (Wahai Muhammad) tidak sekali-kali akan menimpa kami sesuatu pun melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung yang menyelamatkan kami dan (dengan kepercayaan itu) maka kepada Allah jualah hendaknya orang-orang yang beriman bertawaqal”

Menurut Garis Panduan Khurafat dan Azimat yang dikeluarkan oleh JAKIM, Khurafat bermaksud cerita atau perbuatan yang direka dan bersifat karut,dusta dan menyimpang dari ajaran Islam.
Ia masih berlaku dalam masyarakat kerana faktor sejarah dan kerapuhan iman.Sejarah telah menulis bahawa agama Hindu telah lebih dahulu bertapak di negara ini berbanding Islam. Ini menyebabkan kepercayaan kepada kubur keramat, pokok besar, azimat, tangkal dan makhluk halus terus bertapak dalam masyarakat..Pada zaman jahiliyah, orang arab akan merujuk kepada tukang tilik tentang masa depan mereka..

Syed Muhamad Qutb dalam bukunya Jahiliyyah Qarnil Isyrin menyatakan bahawa ia masih berlaku dalam zaman mencabar yang dipenuhi ICT dan serba canggih ini.Berpindah rumah hanya boleh pada hari Rabu, memulakan kerja perlu pada hari Selasa atau Sabtu, meramal nasib dengan memuja keramat adalah beberapa contoh jahiliyah moden yang masih wujud dewasa ini.Percaya kepada pokok, kubur, telaga yang mempunyai kuasa selain Allah boleh membawa syirik dan bertentangan kepada kepercayaan tauhid kepada Allah. Percaya kepada sial, majal, memuja jin dengan meminta pertolongan darinya seperti dilakukan sesetengah bomoh dan dukun dengan amalan menurun adalah syirik dan menyesatkan. Mereka yang bersahabat dan menggunakan jin seperti tukang sihir dan tilik nasib adalah tergolong di kalangan orang yang bodoh dan menzalimi diri sendiri sebagaimana ditegaskan Allah dalam Surah Yunus ayat 106 yang bermaksud:

”Dan janganlah engkau menyembah atau memuja yang lain dari Allah yang tidak mendatangkan manafaat kepadamu dan juga tidak dapat mendatangkan mudharat kepadamu. Sekiranya engkau mengerjakan yang demikian, maka jadilah engkau orang-orang yang berlaku zalim(terhadap diri sendiri dengan perbuatan syirik itu)”
Terdapat sebahagian umat Islam yang masih percaya bahawa Hari Rabu terakhir bulan Safar merupakan hari turunnya ribuan bala yang menimpa umat. Oleh itu mereka dilarang keluar rumah dan melakukan aktiviti sosial harian kerana ditakuti akan ditimpa musibah. Malah anak-anak pula diminta mandi air tolak bala atau mandi di pantai yang lebih dikenali sebagai Mandi Safar.Sesunguihnya ia adalah kepercayaan karut dan bertentangan dari ajaran Islam.Malah perbuatan pesta mandi laut telah mengundang kepada dosa lain seperti wujudnya pergaulan bebas lelaki dan perempuan tanpa batas.

Wujud juga ibubapa yang tidak mahu mengadakan kenduri perkahwinan pada bulan ini kerana ditakuti pasangan akan menjadi tidak bahagia atau tidak mendapat zuriat. Kepercayaan seperti ini boleh menjadi syirik kerana kita lebih mempercayai bulan dan bukan kuasa Allah.Sebenarnya nahas dan bala bencana tidak hanya berlaku dalam bulan Safar. Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud:

”Tidak ada penyakit berjangkit, tidak ada sempena(baik atau buruk) melalui burung berterbangan, tidak ada sial pada burung hantu dan tidak ada nahas dalam bulan Safar. Hendaklah setiap daripada kamu melarikan diri daripada pesakit kusta sebagaimana kamu melarikan diri daripada singa yang bengis”

Hadis riwayat Bukhari)Sesungguhnya mempercayai perkara yang disebutkan menjadikan umat Islam semakin mundur, malas berusaha dan hanya berserah kepada takdir. Di kala umat lain berlumba-lumba meneroka ilmu dan mencapai kejayaan, umat Islam seolah-olah berundur dan tertinggal ke belakang.Kita menjadi tidak produktif kerana tidak dibenarkan keluar rumah pada hari Rabu terakhir bulan Safar. Kesemua kegiatan ekonomi terbantut. Minda kita menjadi jumud dan tidak berkembang kerana mempercayai fahaman karut tersebut.

Malah dalam kontek hubungan kita dengan Allah Taala, kita telah melakukan satu dosa besar tanpa disedari iaitu syirik. Ingatlah peringatan Rasululullah SAW tentang tujuh perkara yang membinasakan yang perlu dijauhi di mana syirik merupakan perkara yang terletak di nombor satu.Amalan penggunaan azimat, tangkal sebagai pelindung diri seperti kebal, ilmu pengasih, ilmu pelembut hati yang dicampuradukkan dengan sihir juga adalah syirik dan menyeleweng dari ajaran Islam.Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud:

”Dari Ibn Mas’ud:rasulullah SAW bersabda:Sesungguhnya jampi mentera, tangkal dan ilmu pengasih adalah syirik”

Hadis riwayat Abu Daud dan Ahmad)Sungguhpun jampi mentera diharuskan sebagaimana diceritakan oleh para sahabat yang bertanya kepada Rasulullah, Syeikh Yusof Qardawui telah menggariskan tiga syarat seperti yang terdapat dalam bukunya Fatawa Al Muasirah1) Ia mesti didasarkan kepada Allah SWT dan nama-namaNya2) Ia mestilah dituturkan dalam bahasa Arab dan kata-kata yang boleh difahami maksudnya3) Beriktikad bahawa ianya tidak memberi kesan dengan sendirinya tetapi dengan takdir Allah SWTAqidah murni menjadi sendi dalam masyarakat, tauhid menjadi paksi dan rohnya.

Oleh itu, agenda memperkukuh akidah merupakan tugas setiap individu. Ilmu agama yang cetek perlu didalami kerana ia merupakan benteng paling berkesan dari terjebak ke lembah khurafat dan syirik.Cari maklumat, rujuk guru dan kitab. muktabar agar ia menjadi pendinding dari amalan yang sia-sia dan dilaknati Allah.

Wallahu A’alam

Nordin bin Bayadi
Unit Penerangan dan Penerbitan
Bahagian Dakwah, JAIS

Wednesday, December 9, 2009

MEMOTONG KUKU : FITRAH RASULULLAH SHALLALLAHU 'ALAIHI WASALLA


Menurut Kamus Dewan, kuku ialah selaput atau bahagian keras yang tumbuh pada hujung jari manusia, benda keras yang menganjur yang tumbuh pada hujung kaki binatang (ada yang besar dan ada yang panjang dan tajam).


Kuku yang diciptakan Allah Subhanahu wa Ta‘ala mempunyai peranan dan kepentingannya yang tersendiri kepada manusia. Dalam hukum Islam, kuku berperanan dalam beberapa perkara hukum yang tidak seharusnya diabaikan oleh umat Islam. Walaupun ia dilihat hanya seolah-olah perkara kecil, namun kadang-kadang ia adalah perkara besar, sebagai contoh ketika seorang yang masih dalam ihram haji atau umrah didenda membayar dam kerana memotong kukunya. Demikian juga kuku boleh menyebabkan tidak sah wudhu atau mandi junub, jika air tidak atau terhalang sampai ke kuku.


Beberapa permasalahan yang berhubungkait dengan kuku dari segi hukum, hikmat memotong kuku, memanjangkan dan mewarnanya akan dibincangkan dalam Irsyad Hukum kali ini.

1. Hukum Dan Hikmat Memotong Kuku

Memotong kuku adalah termasuk dalam amalan sunat. Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha yang maksudnya:


“Sepuluh perkara dikira sebagai fitrah (sunnah): memotong misai, memelihara janggut, bersugi, memasukkan air ke hidung, memotong kuku, membasuh sendi-sendi, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu ari-ari, bersuci dengan air (beristinja), berkata Zakaria: “berkata Mus‘ab: “Aku lupa yang kesepuluh kecuali berkumur.” (Hadis riwayat Muslim)

Memotong kuku adalah sunat bagi lelaki dan perempuan sama ada kuku tangan atau kaki. Adapun hikmat daripada pensyariatan memotong kuku ialah menghilangkan segala kotoran yang melekat atau berkumpul di celah kuku, yang mana kotoran tersebut boleh menghalang sampainya air ketika bersuci.

Selain daripada itu, jika kuku itu pula dibiarkan panjang dan segala kotoran atau najis melekat di dalamnya, nescaya ia boleh menjejaskan kesihatan.

2. Cara Dan Benda Untuk Memotong Kuku

Sunat memotong kuku bermula daripada tangan kanan kemudian tangan kiri, memotong kuku kaki kanan kemudian kaki kiri.

Menurut Imam an-Nawawi, sunat memotong kuku bermula jari tangan kanan keseluruhannya daripada jari telunjuk sehinggalah jari kelingking dan diikuti ibu jari, kemudian tangan kiri daripada jari kelingking sehinggalah ibu jari.

Sementara kuku kaki pula, bermula kaki kanan daripada jari kelingking sehinggalah ibu jari kemudian kaki kiri daripada ibu jari sehinggalah kelingking.

Harus seseorang itu memotong kukunya dengan menggunakan gunting, pisau atau benda yang khas yang tidak menyebabkan mudharat pada kuku atau jari sepertimana yang dikenali sebagai alat pemotong kuku.

Setelah selesai memotong kuku, sayugia segera membasuh tangan (tempat kuku yang telah dipotong) dengan air. Ini kerana jika seseorang itu menggaru pada anggota lain, ditakuti akan menghidap penyakit kusta.

Menurut kitab al-Fatawa al-Hindiyah dalam mazhab Hanafi bahawa makruh memotong kuku dengan menggunakan gigi kerana ia boleh mewarisi penyakit kusta.

3. Waktu Memotong Kuku

Dalam perkara memotong kuku, waktu juga diambil kira dan diambil perhatian dalam Islam. Adapun waktu memotong kuku itu tertakluklah pada panjang kuku tersebut. Bila-bila masa sahaja diharuskan memotong kuku apabila seseorang itu berkehendak pada memotongnya. Akan tetapi janganlah membiarkan kuku tersebut tidak dipotong sehingga melebihi empat puluh hari. Sebagaimana diriwayatkan daripada Anas bin Malik yang maksudnya :


“Telah ditentukan waktu kepada kami memotong misai, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu ari-ari agar kami tidak membiarkannya lebih daripada empat puluh malam.” (Hadis riwayat Muslim)

Adapun menurut Imam asy-Syafi‘e dan ulama-ulama asy-Syafi‘eyah, sunat memotong kuku itu sebelum mengerjakan sembahyang Juma‘at, sebagaimana disunatkan mandi, bersugi, berharuman, berpakaian kemas sebelum pergi ke masjid untuk mengerjakan sembahyang Juma‘at.

Diriwayatkan oleh Abu Sa‘id al-Khudri dan Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhuma berkata yang maksudnya :


Maksudnya: “Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesiapa yang mandi pada hari Juma‘at, bersugi, berwangian jika memilikinya dan memakai pakaian yang terbaik kemudian keluar rumah sehingga sampai ke masjid, dia tidak melangkahi (menerobos masuk) orang-orang yang telah bersaf, kemudian dia mengerjakan sembahyang apa sahaja (sembahyang sunat), dia diam ketika imam keluar (berkhutbah) dan tidak berkata-kata sehingga selesai mengerjakan sembahyang, maka jadilah penebus dosa di antara Juma‘at itu dan Juma‘at sebelumnya.” (Hadis riwayat Ahmad)

Daripada Abu Hurairah katanya yang maksudnya :
“Bahawasanya Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam memotong kuku dan mengunting misai pada hari Juma‘at sebelum Baginda keluar untuk bersembahyang.” (Riwayat al-Bazzar dan ath-Thabrani)

Sementara menurut Ibnu Hajar Rahimahullah pula, sunat memotong kuku itu pada hari Khamis atau pagi Juma‘at atau pada hari Isnin.

4. Menanam Potongan Kuku

Islam sangat perihatin terhadap memuliakan anak Adam termasuk memuliakan anggota badan manusia. Potongan-potongan kuku sunat ditanam di dalam tanah sebagai tanda menghormatinya, kerana ia salah satu daripada anggota manusia. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Fath al-Bari, bahawa Ibnu ‘Umar Radhiallahu ‘anhu menanam potongan kuku.

5. Memotong Kuku Ketika Haid, Nifas Dan Junub

Menurut kitab Al-Ihya’, jika seseorang itu dalam keadaan junub atau berhadas besar, jangan dia memotong rambut, kuku atau mengeluarkan darah atau memotong sesuatu yang jelas daripada badannya sebelum dia mandi junub. Kerana segala potongan itu di akhirat kelak akan kembali kepadanya dengan keadaan junub.

6. Memanjangkan Kuku Dan Mewarnainya (Cutex)

Tabiat memanjangkan kuku dan membiarkannya tanpa dipotong adalah perbuatan yang bertentangan dengan sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihhi wasallam, kerana Baginda menggalakkan supaya memotong kuku. Jika dibiarkan kuku itu panjang, nescaya banyak perkara-perkara yang membabitkan hukum seperti wudhu, mandi wajib dan sebagainya.

Adapun dalam hal mewarnai kuku (cutex), perempuan yang bersuami adalah haram mewarnai kuku jika suaminya tidak mengizinkan. Sementara perempuan yang tidak bersuami pula, haram baginya mewarnai kuku. Demikian juga jika pewarna itu diperbuat daripada benda najis adalah haram digunakan melainkan ada hajat seperti berubat.

Jika pewarna kuku itu boleh menghalang daripada masuknya air, maka wajiblah ditanggalkan pewarna tersebut. Jika tidak ditanggalkan ia daripada kuku tangan atau kaki, maka tidaklah sah wudhu apabila dia berhadas kecil, atau mandi wajib apabila dia berhadas besar iaitu haid, nifas atau junub.

Hal ini berbeza pula dengan berinai, kerana perempuan yang bersuami atau perempuan yang hendak berihram sunat baginya berinai atau berpacar. Walau bagaimanapun cara berinai yang disunatkan itu ialah dengan menggunakan daun inai pada seluruh dua telapak tangan hingga ke pergelangan tangan. Disunatkan juga menyapukan sedikit inai kemuka, sebab ketika ihram, perempuan disuruh membuka muka dan kadang-kadang kedua telapak tangannya akan terbuka. Maka dengan berinai itu akan menutupi warna kulit tangan dan muka.

Adapun perempuan yang tidak bersuami, adalah makruh berinai (menginai seluruh dua telapak tangan hingga ke pergelangan tangan) tanpa ada sesuatu sebab keuzuran dan tidak pula bermaksud untuk melakukan ihram. Ini kerana ditakuti akan menimbulkan fitnah.

Sementara cara berinai dengan hanya menginaikan hujung-hujung jari sahaja dan membuat ukiran-ukiran tertentu adalah tidak dianjurkan, bahkan haram hukumnya berbuat begitu. Akan tetapi diharuskan bagi perempuan yang bersuami berinai dengan cara berkenaan dengan syarat ada keizinan daripada suami. Ini memandangkan ada tujuan isteri berhias untuk suami. Jika tanpa ada keizinan suami maka hukumnya tetap haram.

Manakala hukum berinai bagi kaum lelaki pada dua tangan dan kaki adalah haram. Sebagaimana diriwayatkan oleh Anas bin Malik katanya yang maksudnya :


“Bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kaum lelaki memakai za‘faran (kuma-kuma).” (Hadis riwayat Muslim)

Tambahan lagi, perbuatan berinai pada tangan dan kaki itu terdapat di dalamnya unsur-unsur menyerupai cara kaum wanita berhias. Akan tetapi jika lelaki itu berinai kerana ada keuzuran iaitu ada keperluan atau hajat seperti untuk berubat, tidaklah diharamkan malahan tidak juga dimakruhkan ke atasnya berinai

7. Ketika Melakukan Ibadah Korban

Apabila masuk 10 Zulhijjah, disunatkan bagi orang yang hendak membuat korban untuk dirinya supaya tidak memotong kuku sehinggalah dia selesai menjalankan upacara korban itu, sebagaimana disunatkan tidak menggunting atau mencukur rambut atau lain-lain. Hikmatnya supaya keampunan Allah itu akan didapati secara menyeluruh termasuk keseluruhan anggota-anggota dirinya ketika menyembelih korban sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :


“Jika kamu nampak anak bulan Dzul Hijjah, dan jika salah seorang kamu hendak berqurban, maka janganlah dia memotong rambut dan kukunya.” (Hadis riwayat Muslim)

8. Memotong Kuku Ketika Ihram

Di antara perkara-perkara sunat dilakukan sebelum berniat ihram haji atau umrah ialah mandi sunat ihram. Sebelum mandi sunat ihram, sunat pula terlebih dahulu memotong misai, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu ari-ari dan memotong kuku.

Adapun seseorang yang sudah berniat ihram, haram ke atasnya menghilangkan segala bulu-bulu di tubuh badan dengan senghaja seperti memotong rambut, misai, janggut, bulu ari-ari dan bulu kaki. Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:

Tafsirnya: “Dan janganlah kamu mencukur kepala kamu (untuk bertahallul), sebelum binatang dam itu sampai (dan disembelih) di tempatnya.” (Surah al-Baqarah: 196)

Demikian juga, haram dia memotong kuku tangan dan kaki dengan senghaja, sama ada dengan cara apa sekalipun seperti menggunting, menggigit dan sebagainya.

Apabila seseorang yang masih dalam ihram, melakukan perkara-perkara yang dilarang tersebut, seperti memotong kuku walaupun hanya sedikit atau sebahagian kuku, maka wajib ke atasnya membayar dam.

Dam bagi orang yang memotong kuku ketika dalam ihram dipanggil dam takhyir wa takdir. Dam takhyir ialah dam yang boleh dipilih salah satu daripada dam-dam yang telah ditetapkan oleh syarak mengikut kemampuan. Manakala takdir pula, ialah syarak menjadikan pengganti dam yang berpatutan mengikut kadarnya, tidak lebih dan tidak kurang.

Dam yang diwajibkan itu ialah menyembelih seekor kambing atau memberi makan enam orang miskin setiap seorang daripada mereka dua cupak makanan ataupun berpuasa selama tiga hari. Firman Allah Ta‘ala:


Tafsirnya: “Maka sesiapa di antara kamu sakit, atau terdapat sesuatu yang menyakiti di kepalanya (lalu ia mencukur rambutnya) hendaklah ia membayar fidyah iaitu berpuasa, atau bersedekah, atau menyembelih dam.” (Surah al-Baqarah: 196)

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ka‘ab bin ‘ujrah Radhiallahu ‘anhu yang maksudnya :
“Daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Baginda bersabda: “Berkemungkinan engkau disakiti oleh kutu-kutumu.”

(Ka‘ab bin‘Ujrah) berkata: “Ya! Wahai Rasullullah.

Baginda bersabda: “Cukurlah rambutmu dan puasalah tiga hari atau berilah makan enam orang miskin atau sembelihlah kambing.” (Hadis riwayat al-Bukhari)

Sebagaimana dalil dari al-Qur’an dan hadis yang telah disebutkan di atas, bahawa seseorang yang dalam ihram apabila ada sesuatu yang menyakiti di kepalanya seperti luka dan terpaksa dicukur rambutnya, maka bolehlah dia berbuat demikian akan tetapi hendaklah dia membayar dam. Demikian juga, jika menyakiti kuku kaki atau tangannya, bolehlah dia memotongnya akan tetapi wajib dia membayar dam.

Manakala seseorang yang berakal (tidak gila atau bukan kanak-kanak) jika lupa atau tidak mengetahui bahawa perbuatan memotong kuku ketika dalam ihram itu haram, maka tidaklah dia berdosa dan menurut pendapat yang ashah wajib dia membayar dam.

Adapun kadar kuku yang diwajibkan membayar dam di atas ialah sama kadarnya dengan rambut iaitu tiga potongan kuku atau lebih, dan memotongnya sekaligus di dalam waktu dan tempat yang sama.

Seseorang yang memotong kuku ketika dalam ihram dengan hanya memotong satu atau dua kerat kuku atau memotong tiga kerat kuku di waktu atau tempat yang berbeza-beza, adakah orang tersebut dikenakan membayar dam atau tidak?

Dalam hal ini, menurut pendapat yang shahih, jika seseorang yang masih dalam ihram memotong kukunya hanya satu kerat, maka diwajibkan membayar satu cupak makanan. Jika dia memotong dua kerat kuku, maka diwajibkan membayar dua cupak makanan. Adapun jika dia memotong tiga kerat kuku di waktu atau tempat yang berbeza, maka diwajibkan membayar pada setiap satu kerat kuku satu cupak makanan. Ini bererti, jika dia memotong tiga kerat kuku di waktu atau tempat yang berbeza, maka diwajibkan tiga cupak makanan.

4. Memotong Kuku Mayat

Di antara perkara-perkara sunat dilakukan bagi orang yang sakit atau orang yang hampir nazak ialah mengelokkan diri iaitu dengan memotong kuku, misai, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu ari, bersugi, mandi, berwangian dan memakai pakaian yang bersih.

Imam asy-Syafie tidak menyatakan di dalam kitabnya bahawa sunat memotong kuku mayat, akan tetapi beliau menyatakan perselisihan pendapat antara guru-gurunya dalam menggalakkan dan meninggalkan perbuatan memotong kuku mayat. Akan tetapi beliau memilih dan mentarjih pendapat untuk meninggalkan perbuatan memotong kuku mayat. Maka pendapat yang betul adalah membiarkan kuku mayat tersebut, kerana segala anggota mayat itu dimuliakan dan tidak ada hadis shahih yang menggalakkan perbuatan memotong kuku mayat, bahkan makruh hukumnya jika berbuat demikian. Demikian juga menurut Imam Ibnu Hajar, pendapat yang azhar adalah makruh memotong kuku mayat.

Adapun orang yang meninggal dunia ketika dalam ihram haji atau umrah, haram dipotong kuku mayat tersebut, sebagaimana haram mewangikan tubuh badannya dan memotong rambutnya. Ini kerana diibaratkan keadaannya itu ketika dia masih hidup, di mana haram ke atasnya memotong kuku ketika dalam ihram. Namun jika kuku mayat tersebut menyukarkan tukang mandi untuk membersihkannya, maka tidaklah mengapa jika dipotong kuku tersebut dan tidak juga dikenakan dam ke atas orang yang memotong kuku itu.

Penutup

Sebagai satu rumusan, memandangkan kuku salah satu daripada anggota manusia dan ia kadang-kadang berhubungkait dengan ibadat, maka sayugialah setiap orang Islam itu mengambil perhatian dan mengambil tahu terhadap perkara-perkara yang digalakkan atau dilarang tentang memotong atau menyimpan kuku. Kadang-kadang tanpa disedari perkara yang dianggap kecil itu boleh membawa kepada masalah yang besar.


sumber